KAPOLRESTABES SURABAYA GULUNG JARINGAN JOKI UTBK, PENYEKAPAN LANSIA HINGGA CURANMOR LINTAS DAERAH


Surabaya, Frefensinews.my.id – Pewarta Teddi

Polrestabes Surabaya kembali menunjukkan komitmen tegas dalam memberantas kejahatan terorganisir melalui serangkaian pengungkapan kasus besar yang menyita perhatian publik. Dalam konferensi pers yang digelar di Ruang M. Yasin Polrestabes Surabaya, Kamis (7/5/2026), jajaran Satreskrim memaparkan sejumlah kasus menonjol mulai dari jaringan joki UTBK SNBT lintas daerah, penyekapan lansia selama hampir satu tahun, hingga pengungkapan curanmor antarprovinsi yang meresahkan masyarakat.

Konferensi pers dipimpin langsung Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan, S.I.K., M.H., didampingi Kasi Propam Kompol Kamid, Kasat Reskrim AKBP Dr. Edy Herwiyanto, S.H., M.H., M.Kn., Kasi Humas AKP Hadi, serta jajaran internal kepolisian lainnya.

Dalam paparannya, Kombes Pol. Luthfie Sulistiawan menegaskan bahwa Polrestabes Surabaya tidak akan memberi ruang bagi praktik kejahatan terorganisir, baik yang menyasar sistem pendidikan, tindak kekerasan terhadap warga lanjut usia, hingga kejahatan jalanan lintas wilayah yang meresahkan masyarakat.

Atmosfer konferensi pers berlangsung serius dan penuh ketegasan. Satu per satu kasus dipaparkan secara rinci, memperlihatkan proses penyelidikan panjang, pengumpulan alat bukti, hingga penindakan terhadap para pelaku yang selama ini bergerak secara sistematis.

JARINGAN JOKI UTBK SNBT DIUNGKAP, PRAKTIK BERJALAN HAMPIR SATU DEKADE

Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah terbongkarnya jaringan joki UTBK SNBT yang diduga telah beroperasi sejak tahun 2017 hingga 2026.

Pengungkapan kasus ini membuka tabir praktik curang terstruktur dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang selama bertahun-tahun diduga dijalankan secara rapi dan melibatkan banyak pihak dengan peran berbeda.

Kapolrestabes Surabaya mengungkapkan, penyidik berhasil mengamankan sejumlah pelaku yang memiliki fungsi masing-masing dalam jaringan tersebut, mulai pencari peserta, penyedia dokumen palsu, pelaksana lapangan, hingga eksekutor ujian.

Yang mengejutkan, beberapa pelaku diketahui berasal dari kalangan berpendidikan tinggi dan berprofesi sebagai dokter.

“Ini bukan pelanggaran biasa. Ini menyangkut integritas dunia pendidikan dan masa depan generasi bangsa,” tegas Kombes Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan.

Dari hasil pendalaman sementara, jaringan tersebut diduga menerima sekitar 150 order praktik perjokian dengan tarif fantastis mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta tergantung kampus dan fakultas tujuan.

Fakultas kedokteran disebut menjadi sasaran paling dominan karena tingginya persaingan masuk.

Sementara para eksekutor ujian diketahui memperoleh bayaran puluhan juta rupiah dalam setiap aksi.

Polrestabes Surabaya juga mengungkap adanya praktik pemalsuan identitas berupa KTP untuk mendukung kelancaran operasi jaringan tersebut.

Kasus ini tidak hanya terjadi di Jawa Timur, tetapi menjalar ke berbagai wilayah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga luar Pulau Jawa termasuk Kalimantan.

Meski demikian, hingga saat ini penyidik belum menemukan indikasi keterlibatan institusi kampus dalam praktik tersebut.

Kapolrestabes memastikan pengembangan kasus masih terus dilakukan untuk membongkar seluruh mata rantai jaringan yang diduga telah lama bergerak secara sistematis dan tertutup.

POLISI SELAMATKAN LANSIA 80 TAHUN YANG DISEKAP HAMPIR SATU TAHUN

Dalam kesempatan yang sama, publik juga dibuat terkejut dengan pengungkapan kasus penyekapan terhadap seorang pria lanjut usia berusia 80 tahun yang diduga dikurung selama hampir satu tahun.

Kasus ini menyita perhatian karena pelaku utama merupakan perempuan yang selama ini dikenal dekat dengan keluarga korban dan menjalin hubungan pribadi dengan anak korban.

Menurut Kapolrestabes Surabaya, korban awalnya diajak keluar rumah oleh tersangka dengan alasan tertentu. Namun sesampainya di lokasi, korban justru dikuasai dan dipindah-pindahkan ke sejumlah tempat tanpa akses komunikasi.

Korban disebut hidup dalam keterasingan, tanpa telepon genggam, tanpa kebebasan, dan hanya bergantung pada belas kasihan para pelaku.

“Korban dikondisikan seolah menghilang secara alami, padahal yang terjadi adalah penyekapan,” ungkap Kombes Pol. Luthfie Sulistiawan.

Yang membuat kasus ini semakin menyentuh, korban sama sekali tidak menyadari bahwa sosok yang selama ini dipercayai keluarga justru diduga menjadi dalang utama di balik penyekapan tersebut.

Bahkan ketika berhasil ditemukan aparat dalam kondisi selamat, korban disebut masih menganggap tersangka sebagai pihak yang juga perlu diselamatkan.

Fakta itu memperlihatkan bagaimana pelaku diduga membangun manipulasi psikologis yang begitu kuat terhadap korban dan keluarga.

Saat ini penyidik masih mendalami kemungkinan adanya motif penguasaan aset maupun unsur pemerasan dalam kasus tersebut.

Kapolrestabes menegaskan seluruh pihak yang terlibat akan diproses secara hukum tanpa pengecualian.

PEMBUNUHAN SADIS TERUNGKAP, PELAKU TERNYATA DPO CURANMOR DAN POSITIF NARKOBA

Polrestabes Surabaya juga mengungkap kasus pembunuhan brutal yang dipicu emosi pelaku setelah menerima informasi bahwa adik perempuannya diduga mengalami pelecehan.

Pelaku diketahui mendatangi korban dengan membawa senjata tajam sebelum akhirnya melakukan serangan membabi buta yang menyebabkan korban meninggal dunia di lokasi kejadian.

Hasil pemeriksaan mengungkap bahwa tersangka merupakan residivis kasus narkoba sekaligus buronan kasus pencurian kendaraan bermotor.

Pada malam sebelum kejadian, pelaku juga diketahui mengonsumsi narkotika.

Kasus tersebut kini turut dikembangkan bersama Satresnarkoba guna menelusuri jaringan peredaran narkoba yang berkaitan dengan tersangka.

KOMITMEN POLRESTABES SURABAYA BERANTAS CURANMOR LINTAS DAERAH

Dalam pengungkapan lainnya, Satreskrim Polrestabes Surabaya turut menggulung komplotan curanmor lintas provinsi yang memiliki rekam jejak panjang di berbagai daerah.

Salah satu pelaku tercatat pernah melakukan aksi pencurian kendaraan bermotor di Bangkalan sebanyak sembilan kali, Yogyakarta enam kali, Solo empat kali, Kalimantan enam kali, serta dua kali di Surabaya.

Kapolrestabes menegaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai wilayah untuk mengembangkan jaringan serta mengembalikan kendaraan hasil kejahatan kepada para pemiliknya.

Menurutnya, penindakan terhadap pelaku lapangan maupun penadah akan terus diperkuat demi menekan angka kriminalitas jalanan di Kota Surabaya.

“Keamanan masyarakat adalah prioritas. Kami tidak akan memberi ruang bagi pelaku kejahatan yang meresahkan warga,” tegas Kombes Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan.

Konferensi pers tersebut menjadi gambaran nyata keseriusan Polrestabes Surabaya dalam membangun penegakan hukum yang responsif, profesional, dan berorientasi pada perlindungan masyarakat serta pembongkaran jaringan kejahatan hingga ke akarnya.

Di bawah kepemimpinan Kombes Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan, Polrestabes Surabaya menunjukkan langkah tegas dan terukur dalam menjaga keamanan serta memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

(Pewarta: Teddi | Frefensinews.my.id)

Lebih baru Lebih lama